Showing posts with label pengetahuan. Show all posts
Showing posts with label pengetahuan. Show all posts

Friday, September 21, 2012

Bashaer, Walikota Termuda di Dunia

Bashaer
Tidak ada yang mustahil. Ungkapan ini sering kita dengar. Namun, jika belum melihat atau mengalami bukti nyata, mungkin Anda tidak akan percaya. Salah satu contohnya, walikota termuda di dunia yang berumur 15 tahun.
Bashaer Othman namanya. Ia adalah gadis remaja Palestina yang didaulat untuk memimpin Allar, kota berpenduduk sekitar 8000 jiwa yang berlokasi di Tepi Barat, Palestina. Sebuah hal yang mengundang decak kagum. Negara Timur Tengah yang mayoritas Muslim dikenal lebih menjunjung tinggi kaum laki-laki dibandingkan perempuan, terutama bila menduduki posisi tertentu di bidang pemerintahan.
Namun, Bashaer mampu menunjukkan bahwa kaum perempuan bisa menjadi seorang pemimpin, bahkan pada usia yang masih tergolong muda. Bashaer dilantik menjadi walikota Allar pada 2 Juli 2012 dan menjabat selama dua bulan sampai tanggal 21 September 2012.
Uniknya, Bashaer tidak dipilih menjadi walikota berdasarkan proses pemilihan umum. Ia dipilih secara langsung oleh walikota karena dinilai memiliki wawasan yang cukup luas dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan kenegaraan. Bashaer juga dipandang memiliki kapabilitas sebagai pemimpin serta memiliki visi dan misi yang jelas untuk kemajuan Palestina. Sebelumnya, Bashaer sempat mengikuti Yesark Youth Program (YYP) yang memberikan kesempatan kepada anak muda Palestina untuk terlibat dalam pemerintahan lokal.
Selama masa kepemimpinannya, Bashaer berusaha mencanangkan sejumlah program. Diantaranya adalah membuka lapangan pekerjaan bagi warganya. Bashaer melakukan sejumlah diplomasi dengan negara luar dan meyakinkan para investor agar mau berinvestasi di Palestina. Upaya Bashaer membuahkan hasil karena ada tiga proyek yang berhasil ia dapatkan.
Bashaer juga melakukan tugas-tugas yang biasa ditangani walikota seperti menandatangani berbagai dokumen, memimpin rapat, mengambil keputusan, dan kewenangan dalam penanganan keuangan dalam batas tertentu. Dalam dua bulan masa kepemimpinannya, Bashaer mendapatkan supervisi dari walikota Allar sebelumnya yaitu Sufian Shadid.
Pada tanggal 10-15 September 2012, Bashaer mengunjungi Indonesia. Suatu keputusan yang menarik karena Bashaer memilih kunjungan ke Indonesia dibandingkan negara-negara Barat.
"Saya memilih Indonesia karena Indonesia merupakan negara pertama yang mengakui kedaulatan Palestina pada 1955. Selain itu, Indonesia juga selalu mendukung perjuangan dan terciptanya perdamaian di Palestina," ungkap Bashaer saat pemberian gelar The World's Youngest Mayor Award di Pasaraya Blok M pada Kamis (13/9).
Bashaer berpesan kepada anak muda Indonesia agar lebih aktif terlibat dalam kegiatan pemerintahan di negaranya. Selain itu, Bashaer memberikan masukan bagi para pemimpin di Indonesia agar memberikan peluang bagi kaum muda untuk berpartisipasi dalam proses pemerintahan.
"Suatu saat, ketika saya kembali ke sini, saya ingin bertemu dengan Presiden Indonesia yang berumur di bawah 30 tahun," kata Bashaer.

Sumber: shvoong.com

Thursday, August 23, 2012

Penyelesaian Pekerjaan Audit

Auditing

PENYELESAIAN PEKERJAAN AUDIT

Tahap-tahap penyusunan laporan keuangan auditan yang dilakukan oleh auditor meliputi:
  1. Membuat skedul pendukung.
  2. Membuat skedul utama.
  3. Membuat working trial balance.
  4. Membuat ringkasan jurnal adjustment.
  5. Membuat laporan keuangan auditan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh auditor dalam mereview jurnal adjustment:
  1. Kebenaran akun yang didebit dan dikredit serta ketelitian penghitungan jurnal adjustment yang akan diusulkan tersebut.
  2. Kelengkapan penjelasan jurnal adjustment.
  3. Reaksi klien yang timbul atas adjustment yang diusulkan tersebut.

Auditor membicarakan berbagai jurnal adjustment dan penjelasan laporan keuangan tersebut dengan klien, untuk diusulkan bagi adjustment terhadap catatan akuntansi dan penjelasan laporan keuangan klien. Jika klien menyetujui semua jurnal adjustment yang diusulkan oleh auditor, dan menyetujui semua penjelasan yang diusulkan oleh auditor di dalam penjelasan laporan keuangan, maka laporan keuangan auditan dan penjelasan laporan keuangan akan disajikan sebagai bagian dari laporan audit. Jika tidak semua jurnal adjustment dan penjelasan laporan keuangan disetujui oleh klien, auditor dapat mengubah pendapatnya sedemikian rupa sehingga mencerminkan hasil auditnya terhadap laporan keuangan auditan.

PERISTIWA KEMUDIAN

Peristiwa kemudian yang perlu dijelaskan di dalam laporan audit:
  1. Peristiwa yang jumlahnya material.
  2. Peristiwa yang penting dan bersifat luar biasa.
  3. Peristiwa yang terjadi dalam periode sejak tanggal neraca sampai dengan tanggal selesainya pekerjaan lapangan.

Peristiwa kemudian yang memerlukan adjustment terhadap laporan keuangan klien dibagi menjadi dua golongan:
  1. Peristiwa kemudian yang memerlukan adjustment terhadap laporan keuangan klien.
  2. Peristiwa kemudian yang tidak memerlukan adjustment terhadap laporan keuangan klien, namun perlu dicantumkan penjelasan untuk itu.

Contoh peristiwa kemudian yang memerlukan adjustment terhadap laporan keuangan klien:
  1. Pengumuman kebangkrutan debitur klien karena terjadinya kesulitan keuangan debitur tersebut, yang jumlah piutang kepada debitur tersebut melebihi jumlah cadangan kerugian piutang yang telah dibentuk oleh klien.
  2. Penyelesaian perkara pengadilan yang jumlahnya berbeda dengan jumlah yang telah dicatat di dalam buku klien.
  3. Penjualan ekuipmen yang sudah tidak dipakai lagi dalam kegiatan usaha klien, dengan harga dibawah nilai bukunya kini.
  4. Penjualan surat berharga pada harga yang lebih rendah daripada kos yang dicatat di dalam buku klien.

Contoh peristiwa kemudian yang tidak memerlukan adjustment terhadap laporan keuangan klien, namun perlu dicantumkan penjelasan untuk itu, misalnya sebagai catatan kaki atau penjelasan di dalam laporan audit:
  1. Penurunan harga pasar surat berharga yang dimiliki klien sebagai investasi sementara.
  2. Pengeluaran obligasi atau saham.
  3. Penyelesaian perkara pengadilan yang peristiwa penyebabnya terjadi setelah tanggal neraca.
  4. Penurunan nilai pasar persediaan sebagai akibat larangan pemerintah terhadap penjualan suatu produk.
  5. Kerugian akibat terbakarnya sediaan yang tidak diasuransikan.

Prosedur audit terhadap peristiwa kemudian:
  1. Pelajari notulen rapat pemegang saham, dewan komisaris, dan komisi-komisi yang dibentuk dalam periode setelah tanggal neraca.
  2. Review laporan keuangan klien yang dibuat dalam jangka waktu antara tanggal neraca auditan sampai dengan tanggal penerbitan laporan audit.
  3. Adakan wawancara dengan pimpinan perusahaan mengenai peristiwa yang kemungkinan berdampak material terhadap penyajian laporan keuangan.
  4. Lakukan wawancara dengan penasihat hokum klien.
  5. Review penagihan piutang usaha yang terjadi setelah tanggal neraca.
  6. Review jurnal penerimaan kas terutama yang mengenai transaksi penerimaan kas dari penarikan kredit atau dari penjualan aktiva tetap yang jumlahnya material.
  7. Review transaksi yang material jumlahnya yang dicatat dalam buku jurnal material.
Sumber: shvoong.com

Saturday, August 18, 2012

Audit Siklus Pendapatan

Auditing

a. Pengujian atas Pengendalian Intern
Audit siklus pendapatan bertujuan untuk memperoleh bukti kompeten yang cukup tentang tiap asersi manajemen yang signifikan dalam laporan keuangan. Pada siklus pendapatan risiko pengendalian yang muncul umumnya karena tekanan pada manajemen untuk menampilkan performa pendapatan yang lebih baik dari entitas lain, keinginan melebihsajikan atau merendahsajikan kas, piutang, atau piutang tak tertagih untuk kepentingan likuiditas. Selain itu kesalahan karena tingginya transaksi dalam siklus pendapatan, standar akuntansi dan klasifikasi akun-akun dalam siklus pendapatan yang tidak tepat memungkinkan munculnya risiko pengendalian. Dokumen-dokumen yang sering digunakan dalam memproses transaksi penjualan, khususnya yang kredit antara lain order pelanggan, order penjualan, dokumen pengiriman, faktur penjualan, daftar harga yang diotorisasi, buku besar pembantu piutang, berkas transaksi penjualan, jurnal penjualan dan laporan penjualan bulanan. Fungsi-fungsi yang terlibat dalam transaksi penjualan kredit adalah bagian penerimaan order pelanggan, persetujuan kredit, pemenuhan order penjualan, pengiriman order penjualan, penagihan pelanggan, dan pencatatan transaksi penjualan.

b. Transaksi Penerimaan Kas dan Penyesuaian Pendapatan
Penerimaan kas berasal dari berbagai aktivitas. Dokumen dan catatan yang digunakan dalam memproses penerimaan kas terdiri dari nota pembayaran (remittance advice), daftar penerimaan kas yang disiapkan sebelumnya (prelisting of cash receipt), lembar perhitungan kas (cash count sheet), ringkasan kas harian (daily cash summary), slip penyimpanan yang divalidasi (validated deposit slip), berkas transaksi penerimaan kas (cash receipt transaction file), dan jurnal penerimaan kas (cash receipt journal). Pemrosesan penerimaan kas dari penjualan tunai dan kredit melibatkan fungsi-fungsi penerimaan kas, penyimpanan kas di bank, dan pencatatan penerimaan.
Faktor-faktor yang mungkin memotivasi manajemen untuk salah saji dalam asersi siklus penerimaan kas antara lain penjualan tunai mungkin tidak dicatat sengaja dilakukan dalam rangka pencurian kas, penerimaan kas melalui surat mungkin hilang atau salah diakui setelah penerimaan, uang dan cek yang diterima untuk disimpan mungkin tidak sesuai dengan lembar perhitungan kas dan prelist, kas mungkin tidak disetor setiap hari sebagai upaya menumpuk kas pada pemegang kas untuk keuntungan pribadi, nota pembayaran mungkin tidak sesuai dengan prelist, beberapa penerimaan mungkin tidak dicatat karena banyaknya transaksi penerimaan kas yang dokumennya mungkin tidak langsung disimpan atau dicatat secara rapi, kekeliruan mungkin dilakukan dalam menjurnal penerimaan, dan penerimaan kas mungkin dimasukkan ke akun pelanggan yang salah.
Audit penerimaan kas bertujuan untuk meyakinkan bahwa posisi kas pada tanggal neraca benar-benar ada dan merupakan milik perusahaan (existence and ownership), semua transaksi penerimaan kas telah dicatat dengan lengkap dan merupakan transaksi yang sah (completeness), kas di bank seperti dinyatakan dalam rekonsiliasi telah dijumlahkan dengan benar dan sesuai dengan buku besar (mathematical accuracy), kas di bank seperti dinyatakan dalam rekonsiliasi adalah absah dan benar (validity and valuation), transaksi penerimaan kas dicatat dalam periode yang tepat (cut-off), dan kas telah diungkapkan dengan benar (disclosure).
Transaksi penyesuaian penjualan meliputi fungsi-fungsi persetujuan diskon, persetujuan retur dan pengurangan penjualan, dan penentuan piutang tak tertagih. Salah saji yang potensial berasal dari kekeliruan dan ketidakteraturan dalam pemrosesan transaksi-transaksi ini. Perhatian utama adalah pada kemungkinan transaksi penyesuaian penjualan fiktif yang dicatat dalam pemrosesan penerimaan kas. Auditor harus memahami semua aspek yang relevan dari komponen struktur pengendalian intern dan menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi risiko salah saji tersebut.

c. Pengujian Substantif atas Piutang Usaha
Standar akuntansi keuangan menggolongkan piutang menurut sumber terjadinya dalam dua kategori yaitu piutang usaha dan piutang lain-lain. Piutang dinyatakan sebesar jumlah tagihan dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak dapat ditagih. Jumlah kotor piutang harus tetap disajikan pada neraca diikuti dengan penyisihan untuk piutang tidak dapat ditagih. Perancangan pengujian substantif atas piutang usaha ini, pertama-tama auditor harus menentukan tingkat risiko deteksi (detection risk) yang dapat diterima untuk tiap asersi signifikan yang berhubungan. Penentuan risiko pengendalian untuk asersi piutang usaha tergantung pada penentuan risiko pengendalian yang terkait untuk kelas-kelas transaksi (penjualan kredit, penerimaan kas, dan penyesuaian kas) yang mempengaruhi saldo piutang usaha.
Tujuan pemeriksaan (audit objectives) antara lain:
  1. mengetahui apakah terdapat pengendalian intern yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas;
  2. memeriksa validitas (validity) dan otentitas (authenticity) dari piutang;
  3. memeriksa kolektibilitas (collectibility) piutang dan cukup tidaknya perkiraan allowance for bed debts (penyisihan piutang tak tertagih);
  4. mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability) yang timbul karena pendiskontoan wesel tagih;
  5. memeriksa apakah penyajian piutang di neraca sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum (SAK).
Sumber: shvoong.com

Wednesday, August 15, 2012

Audit Siklus Pengeluaran


a. Pengujian Pengendalian pada Siklus Pengeluaran
Siklus pengeluaran terdiri dari 2 transaksi utama, yaitu transaksi pembelian dan transaksi pengeluaran kas. Dalam melakukan pengauditan atas kelas transaksi dan jumlah akun, perlu diperhatikan kategori asersinya yang terdiri dari: existence or occurance (keberadaan atau keterjadian), completeness (kelengkapan), right and obligations (hak dan kewajiban), valuation or allocation (penilaian atau alokasi) dan presentation and disclosure (penyajian dan pengungkapan). Dalam melakukan aktivitas kontrol pada transaksi pembelian, harus melakukan pertimbangan penaksiran atas risiko kontrol terhadap fungsi: permintaan barang dan jasa, penyiapan permintaan pembelian, penerimaan barang, penyimpanan barang sebagai persediaan, penyiapan voucher pembayaran dan pencatatan utang. Hal ini dilakukan untuk menentukan adanya salah saji potensial, aktivitas pengendalian yang diperlukan dan pengujian pengendalian yang dapat dilaksanakan. Sedangkan untuk aktivitas kontrol pada transaksi pengeluaran kas, pertimbangan penaksiran atas risiko kontrol yang harus dilakukan adalah terhadap fungsi : pembayaran utang dan pencatatan pengeluaran kas. Pada penyusunan program audit, baik untuk transaksi pembelian maupun transaksi pengeluaran kas, harus berdasarkan asersi yang dituju, yaitu: keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi.

b. Pengujian Substantif pada Siklus Pengeluaran
Pengujian substantif pada siklus pengeluaran dilakukan pada saldo utang, saldo aktiva tetap, dan saldo aktiva tidak berwujud. Dalam melakukan pengujian substantif ini, dimulai dari prosedur audit awal, prosedur analitik, pengujian terhadap transaksi rinci, pengujian terhadap saldo akun rinci dan diakhiri dengan verifikasi penyajian dan pengungkapan.
Pengujian substansif atas saldo utang, saldo aktiva tetap, dan saldo aktiva tidak berwujud bertujuan untuk:
  1. memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi;
  2. membuktikan keberadaan dan keterjadian transaksi;
  3. membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo yang disajikan di neraca;
  4. membuktikan kewajiban klien atau kewajaran penilaian aktiva yang dicantumkan di neraca; dan
  5. membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan saldo di neraca.

Sumber: shvoong.com

Saturday, August 4, 2012

Laporan Audit


LAPORAN AUDIT


Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyusun laporan audit:
  1. Manfaat Pemeriksaan Akuntansi
  2. Jenis Pemeriksaan Akuntansi
  3. Jenis-jenis Opini Akuntan
  4. Unsur-unsur Laporan Audit


MANFAAT PEMERIKSAAN AKUNTANSI

Manfaat pemeriksaan akuntansi bagi pihak perusahaan yang diaudit:
  1. Menambah kredibilitas laporan keuangan badan usaha / organisasi.
  2. Dapat mengurangi kecurangan di kalangan manajemen dan para karyawan perusahaan.
  3. Dapat memberikan dasar yang lebih dipercaya untuk penyiapan surat pemberitahuan pajak dan laporan keuangan yang harus diserahkan kepada pemerintah , sehingga mengurangi audit pemerintah.
  4. Dapat membuka pintu masuknya sumber-sumber pembiayaan dari luar (investor).
  5. Seringkali dapat menyingkapkan kesalahan / penyimpangan moneter dalam catatan keuangan klien, sehingga dapat menemukan biaya atau pendapatan yang hilang.

Manfaat pemeriksaan akuntansi bagi pihak-pihak luar perusahaan yang diaudit:
  1. Dapat memberikan dasar yang lebih meyakinkan kepada parainvestor / kreditor untuk mengambil keputusan yang menyangkut pemberian kredit.
  2. Dapat memberikan dasar yang terpercaya kepada para investor dan calon investor untuk menilai prestasi investasi dan kepengurusan manajemen.
  3. Dapat memberikan dasar yang lebih meyakinkan kepada perusahaan asuransi untuk menyelesaikan klaim atas kerugian yang bias diasuransikan.
  4. Dapat memberikan dasar yang obyektif kepada serikat buruh dalam menyelesaikan sengketa mengenai upah dan tunjangan.
  5. Dapat memberikan dasar yang independen kepada pembeli maupun penjual untuk menentukan syarat-syarat pembelian, penjualan atau penggabungan perusahaan.
  6. Dapat memberikan dasar yang lebih meyakinkan kepada para pelanggan atau klien untuk menilai profitabilitas atau rentabilitas perusahaan , efisiensi operasionalnya dan keadaan keuangannya.

Manfaat pemeriksaan akuntansi bagi pihak pemerintah dan badan hukum:
  1. Dapat memberikan tambahan kepastian yang independen tentang kecermatan dan keterandalan kepada badan pemerintah.
  2. Dapat memberikan dasar yang independen kepada mereka yang bergerak di bidang hukum untuk mengurus harta / menyelesaikan masalah dalam kebangkrutan dan menentukan pelaksanaan perjanjian, persekutuan dengan cara semestinya.
  3. Dapat memegang peranan yang menentukan dalam mencapai tujuan undang-undang keamanan Nasional.



JENIS PEMERIKSAAN AKUNTANSI
Ditinjau dari luas pemeriksaannya, audit dibedakan menjadi:
  1. General Audit (Pemeriksaan Umum).
  2. Special Audit (Pemeriksaan Khusus).

Ditinjau dari jenis pemeriksaannya, audit dibedakan menjadi:
  1. Management Audit (Operational Audit).
  2. Compliance Audit (Pemeriksaan Ketaatan).
  3. Internal Audit (Pemeriksaan Intern).
  4. Computer Audit.


JENIS-JENIS OPINI AKUNTAN
  1. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian(Unqualified Opinion), akan diberikan oleh akuntan publik jika auditor telah melaksanakan pemeriksaan sesuai dengan standar auditing yang ditetapkan oleh IAI (Standar Profesional Akuntan Publik), dan telah mengumpulkan bahan-bahan pembuktian yang cukup untuk mendukung opininya, serta tidak menemukan adanya kesalahan material atau penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum (SAK).
  2. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan Bahasa Penjelasan (Unqulified Opinion with Explanatory Language), akan diberikan oleh akuntan publik jika terdapat keadaan tertentu yang mengharuskan auditor menambahkan paragraf penjelasan dalam laporan audit, meskipun tidak mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian yang dinyatakan oleh auditor.
  3. Pendapat Wajar Dengan Pengecualian (Qualified Opinion), laporan keuangan menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, kecuali untnk dampak hal yang berkaitan dengan yang dikecualikan.
  4. Pendapat Tidak Wajar (Adverse Opinion), laporan keuangan menyajikan secara tidak wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
  5. Pernyataan Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer Opinion), suatu pernyataan tidak memberikan pendapat menyatakan bahwa auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan.


UNSUR-UNSUR LAPORAN AUDIT

1. Judul, “Laporan Audit Independen”.
2. Alamat , “Pihak yang memberi penugasan”.
3. Paragraf Pendahuluan, harus berisi:
o Pernyataan telah melakukan pemeriksaan
o Periode Laporan Keuangan yang diaudit
o Jenis Laporan Keuangan
o Tanggung jawab manajemen terhadap Laporan Keuangan
o Tanggung jawab auditor terhadap pernyataan pendapat atas Laporan Keuangan yang diaudit.
4. Paragraf Ruang Lingkup
o Pernyataan auditor , bahwa pelaksanaan pemeriksaan sesuai dengan standar auditing yang disahkan oleh IAI.
o Pernyataan auditor bahwa pemeriksaan dilakukan dengan perencanaan, pengujian, pengumpulan bukti-bukti dan pengungkapan dalam Laporan Keuangan.
5. Paragraf Pendapat
o Auditor menyatakan pendapatnya, terhadap Laporan Keuangan secara keseluruhan pada nilai yang material.
6. Identitas Kantor Akuntan Publik, “Nama, No Register, Tanda Tangan”.
7. Tanggal Laporan, “Tanggal yang dicantumkan adalah tanggal diselesaikannya pemeriksaan”.
Untuk pendapat selain pendapat wajar tanpa pengecualian, maka unsur laporan audit ditambah "paragraph penjelasan", sebagai penjelasan atas pengecualian pos dalam laporan keuangan atau ketidakwajaran dalam laporan keuangan.

Sumber: shvoong.com











Friday, August 3, 2012

Motivasi dan Tujuan Penelitian


1. Motivasi dan Tujuan Penelitian
Motivasi dari dilakukannya suatu penelitian yaitu karena adanya keinginan untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan. Sedangkan tujuan utama penelitian ada dua, yaitu untuk memperoleh/mengembangkan pengetahuan, dan untuk memecahkan suatu masalah atau menjawab pertanyaan penelitian.

2. Karakteristik Penelitian
Karakteristik dari suatu penelitian ada tiga, yaitu tujuan penelitian, metode-metode penelitian yang digunakan, dan hubungan antara penelitian dengan ilmu.

3. Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah suatu proses atau cara-cara tertentu untuk mengkaji sumber-sumber untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Pengetahuan atau ilmu yang diperoleh dari suatu metode ilmiah harus mempunyai karakteristik yaitu ilmu tersebut mempunyai pengetahuan yang rasional dan pengetahuan yang teruji. Ilmu diperoleh dari suatu penelitian, dan penelitian dilakukan untuk mengembangkan sebuah ilmu menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.

4. Proses Penelitian
Proses penelitian dimulai dengan menemukan suatu masalah/pertanyaan penelitian, kemudian pemecahan masalah dilakukan dengan dua dimensi pengujian, yaitu dengan telaah teoritis dan pengujian fakta. Kemudian dari proses tersebut dapat ditarik kesimpulan yang berupa dukungan atau penolakan terhadap hipotesis yang dikembangkan dari telaah teoritis melalui pengujian fakta atau pengungkapan fakta yang digunakan sebagai dasar untuk penyusunan teori atau hipotesis.

5. Paradigma Penelitian
Paradigma penelitian ada dua jenis yaitu paradigma kuantitatif dan paradigma kualitiatif. Paradigma kuantitatif menekankan pada pengujian teori, sedangkan paradigma kualitatif menekankan pada pemahaman masalah berdasarkan realita.

6. Kriteria Penelitian Ilmiah
  • Menyatakan tujuan secara jelas
  • Menggunakan landasan teoritis dan metode pengujian data yang relevan
  • Mengembangkan hipotesis yang dapat diuji dari telah teoritis atau berdasarkan pengungkapan data
  • Mempunyai kemampuan untuk diuji ulang (replikasi)
  • Memilih data dengan presisi sehingga hasilnya dapat dipercaya
  • Menarik kesimpulan secara obyektif
  • Melaporkan hasilnya secara parsimony
  • Temuan penelitian dapat digeneralisasi
Sumber: shvoong.com

Thursday, August 2, 2012

Lingkup dan Klasifikasi Penelitian Bisnis


Lingkup dan Klasifikasi Penelitian Bisnis

1. Lingkup Penelitian Bisnis

Ada dua lingkup penelitian bisnis, yaitu lingkup penelitian manajemen dan lingkup penelitian akuntansi. Lingkup penelitian manajemen meliputi bisnis umum, pemasaran, keuangan, manajemen dan perilaku organisasional, sistem informasi manajemen, manajemen operasi, dan manajemen sumber daya manusia. Lingkup penelitian akuntansi meliputi akuntansi keuangan, pasar modal, akuntansi manajemen, auditing, sistem informasi akuntansi, dan perpajakan.

2. Klasifikasi Penelitian Bisnis

a. Berdasarkan Tujuan Penelitian
  1. Penelitian Dasar, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan teori
  2. Penelitian Terapan, yaitu penelitian yang menekankan pada pemecahan masalah

b. Berdasarkan Karakteristik Masalah
  1. Penelitian Historis, merupakan penelitian terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena masa lalu
  2. Penelitian Deskriptif, merupakan penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu populasi
  3. Studi Kasus dan Lapangan, merupakan penelitian dengan karakteristik masalah yang berkaitan dengan latar belakang dan kondisi saat ini dari subyek yang diteliti, serta interaksinya dengan lingkungan
  4. Penelitian Korelasional, merupakan penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan korelasional antara dua variabel atau lebih
  5. Penelitian Kausal Komparatif, merupakan penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan sebab-akibat antara dua variabel atau lebih
  6. Penelitian Eksperimen, merupakan penelitian yang serupa dengan penelitian kausal komparatif, tetapi ada perlakuan terhadap variabel independen

c. Berdasarkan Jenis Data
  1. Penelitian Opini, merupakan penelitian terhadap fakta berupa opini atau pendapat orang/responden
  2. Penelitian Empiris, merupakan penelitian terhadap fakta empiris yang diperoleh berdasarkan observasi atau pengalaman

3. Tipe-tipe Penelitian Kualitatif
  1. Berdasarkan metode pengumpulan dan analisis data, teknik penulisan laporan, atau berdasarkan desain penelitian: human ethology, ecological psychology, holistic etnography, cognitive antropology, etnography of communication, dan symbolic interactionism
  2. Berdasarkan pendekatan dan perspektif: pendekatan interpretif, pendekatan artistik, pendekatan sistematis, perspektif antropologis, perspektif sosiologis, perspekktif biologis, studi kasus, studi kognitif, dan penelitian historis
Sumber: shvoong.com

Saturday, July 21, 2012

Aneka Minuman Panas khas Jawa

Menyeruput minuman panas sangatlah nikmat, apalagi saat cuaca dingin atau musim penghujan. Namun di beberapa daerah, minuman panas telah menjadi tradisi dan tidak hanya diminum saat udara dingin. Di Jawa, minuman panas kerap disebut juga dengan wedang.

Kita bisa menggolongkan minuman panas menjadi yang tidak berisi dan yang berisi. Kebanyakan orang sudah pernah merasakan minuman panas yang tidak berisi, misalnya saja teh, ada teh tubruk dan ada teh yang sudah disaring.

Masyarakat Jawa Tengah lazim menghidangkan teh dicampur gula untuk tamu, sedangkan di Jawa Barat teh untuk tamu disajikan tanpa gula alias teh tawar. Contoh minuman tak berisi lainnya adalah kopi yang banyak disukai di Jawa Timur sebagai minuman sehari-hari, cokelat yang bisa ditambahkan susu, jeruk dari jeruk nipis atau jeruk khusus minuman serta wedang jahe yang dibuat dari jahe yang dibakar, dikupas, dipukul sebelum diberi gula dan dituangi air mendidih.

Sementara itu, minuman panas berisi misalnya bajigur, yang dibuat dari santan agak kental, kopi, gula pasir dan kolang-kaling. Jika Anda asli Jawa Tengah tentu tidak asing lagi dengan wedang ronde, minuman panas dengan isi ronde berbentuk kelereng dari tepung ketan dan tepung kanji yang diisi kacang, lalu dituangi air panas dan diuli. Bahan cair minuman lezat ini adalah air, gula merah, serai, kacang tanah dan kolang-kaling sebagai isinya. Selain itu ada lagi wedang cenil, dibuat dari gula merah, jahe, serai, santan agak kental, garam, dan diisi roti tawar.

Atau sekoteng yang terbuat dari sagu biji, manisan, agar-agar, gula pasir, serbuk jahe dan air panas. Kalau Anda orang Rembang tentu tahu wedang ublek, terbuat dari santan, gula merah, dan kelapa muda yang direbus sampai mendidih.

Sumber: 
shvoong.com

Sunday, July 15, 2012

Karnaval Budaya di Jember, Sebuah Eksistensi


Siapa tak kenal Jember Fashion Carnival (JFC)? Karnaval busana di Jember, Jawa Timur ini seolah telah menjadi tradisi tahunan. Ratusan orang peserta berbusana unik berwarna-warni yang tematis, melakukan pawai di ruas jalan utama kota Jember sepanjang 3,6 kilometer.

Tak hanya sekedar pawai, para peserta karnaval juga menari dan mempertontonkan kostum-kostum yang mereka desain dengan bentuk dan model yang lain dari yang lain. Atau, "nyeleneh" menurut istilah masyarakat Jawa. Ya, dengan tata kostum, tata rias, koreografi, karakter, ilustrasi musik, dan aspek pendukung lainnya membuat JFC menyedot perhatian siapa saja.

Diadakan sejak 2001, JFC memang selalu menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Contohnya tema archipelago atau Nusantara, yang mengangkat tema busana nasional dari daerah-daerah tertentu di Indonesia. Tema-tema lain seperti mancanegara, film, atau peristiwa global lainnya juga diangkat menjadi tema busana dalam JFC.

Karnaval yang diadakan pertama kali bersamaan dengan HUT Kota Jember ini mampu menyedot perhatian masyarakat dan media massa dari Jember, luar kota, luar provinsi, bahkan luar negeri. Pertama kali muncul, sebenarnya JFC dipelopori Dynand Fariz, perancang busana kelahiran Jember. JFC sendiri merupakan pengembangan dari acara pekan mode Dynand Fariz. Seluruh karyawan rumah mode Dynand Fariz berkeliling kampung dan alun-alun Jember. Event ini pun mendapat perhatian luas dan kemudian diadakanlah sebuah gebrakan dengan menggelar Jember Fashion Carnival.

Dydand Fariz yang juga berprofesi sebagai pengajar fesyen sebenarnya hanya memiliki keinginan sederhana, yaitu pelaku di bidang fesyen tidak hanya memahami fesyen secara teori, tetapi juga terjun langsung sebagai praktisi sehingga mengetahui kondisi di lapangan. Keinginan lainnya adalah mengangkat harkat masyarakat Jember.

Mulanya, masyarakat Jember identik dengan masyarakat yang mayoritas bermatapencaharian di bidang pertanian dan dikenal memegang teguh nilai-nilai religi. Namun, anggapan ini terpupus begitu digelarnya JFC. Kini, Jember juga dikenal tak hanya di seantero Indonesia, tetapi juga dunia dengan fesyen unik dalam JFC.

Ketenaran Jember Fashion Carnival pun membuat event ikonik Jember ini dipertunjukkan di obyek wisata Ancol dan Istora Senayan sebagai rangkaian acara untuk menyambut pergantian tahun 2011-2012. Sementara itu, tawaran JFC untuk melenggang di panggung dunia pun bermunculan dari negara China, Inggris, dan India.

Jember mungkin hanyalah kota kecil yang beberapa tahun lalu namanya nyaris kurang dikenal. Namun, JFC ini telah mengangkat pamor Jember. Kebanggaan masyarakat Jember pun timbul. Bagi masyarakat Indonesia pada umumnya, tentunya ini menimbulkan motivasi bahwa masih banyak potensi bangsa yang belum tergali.

Sumber: 
shvoong.com

Thursday, June 28, 2012

Asimetri Informasi dan Manajemen Laba


Asimetri Informasi

Manajer sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemilik (pemegang saham). Oleh karena itu sebagai pengelola, manajer berkewajiban memberikan sinyal mengenai kondisi perusahaan kepada pemilik. Sinyal yang diberikan dapat dilakukan melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan.

Laporan keuangan dimaksudkan untuk digunakan oleh berbagai pihak, termasuk manajemen perusahaan itu sendiri. Namun yang paling berkepentingan dengan laporan keuangan sebenarnya adalah para pengguna eksternal (diluar manajemen). Laporan keuangan tersebut penting bagi para pengguna eksternal terutama sekali karena kelompok ini berada dalam kondisi yang paling besar ketidakpastiannya (Ali, 2002). Para pengguna internal (para manajemen) memiliki kontak langsung dengan entitas atau perusahannya dan mengetahui peristiwa-peristiwa signifikan yang terjadi, sehingga tingkat ketergantungannya terhadap informasi akuntansi tidak sebesar para pengguna eksternal.

Situasi ini akan memicu munculnya suatu kondisi yang disebut sebagai asimetri informasi (information asymmetry). Yaitu suatu kondisi di mana ada ketidakseimbangan perolehan informasi antara pihak manajemen sebagai penyedia informasi (prepaper) dengan pihak pemegang saham dan stakeholder pada umumnya sebagai pengguna informasi (user).

Menurut Scott (2000), terdapat dua macam asimetri informasi yaitu:
  1. Adverse selection, yaitu bahwa para manajer serta orang-orang dalam lainnya biasanya mengetahui lebih banyak tentang keadaan dan prospek perusahaan dibandingkan investor pihak luar. Dan fakta yang mungkin dapat mempengaruhi keputusan yang akan diambil oleh pemegang saham tersebut tidak disampaikan informasinya kepada pemegang saham.
  2. Moral hazard, yaitu bahwa kegiatan yang dilakukan oleh seorang manajer tidak seluruhnya diketahui oleh pemegang saham maupun pemberi pinjaman. Sehingga manajer dapat melakukan tindakan diluar pengetahuan pemegang saham yang melanggar kontrak dan sebenarnya secara etika atau norma mungkin tidak layak dilakukan.

Adanya asimetri informasi memungkinkan adanya konflik yang terjadi antara principal dan agent untuk saling mencoba memanfatkan pihak lain untuk kepentingan sendiri. Eisenhardt (1989) mengemukakan tiga asumsi sifat dasar manusia yaitu: (1) manusia pada umunya mementingkan diri sendiri (self interest), (2) manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan (3) manusia selalu menghindari resiko (risk adverse). Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut menyebabkan bahwa informasi yang dihasilkan manusia untuk manusia lain selalu dipertanyakan reliabilitasnya dan dapat dipercaya tidaknya informasi yang disampaikan.


Manajemen Laba

Schipper (1989) mendefinisikan manajemen laba sebagai suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja untuk memperoleh beberapa keuntungan pribadi. Fischer dan Rosenzweig (1995) mendefinisikan manajemen laba sebagai tindakan seorang manajer dengan menyajikan laporan yang menaikan (menurunkan) laba periode berjalan dari unit usaha yang menjadi tanggungjawabnya, tanpa menimbulkan kenaikan (penurunan) profitabilitas ekonomi unit tersebut dalam jangka panjang. Sedangkan menurut Healy dan Wahlen (1999), manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan pertimbangan (judgment) dalam pelaporan keuangan dan penyusunan transaksi untuk merubah laporan keuangan, dengan tujuan untuk memanipulasi besaran (magnitude) laba kepada beberapa stakeholders tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi hasil perjanjian (kontrak) yang tergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan.

Healy dan Wahlen (1999), menyatakan bahwa definisi manajemen laba mengandung beberapa aspek. Pertama intervensi manajemen laba terhadap pelaporan keuangan dapat dilakukan dengan penggunaan judgment, misalnya judgment yang dibutuhkan dalam mengestimasi sejumlah peristiwa ekonomi di masa depan untuk ditunjukan dalam laporan keuangan, seperti perkiraan umur ekonomis dan nilai residu aktiva tetap, tanggungjawab untuk pensiun, pajak yang ditangguhkan, kerugian piutang dan penurunan nilai asset. Disamping itu manajer memiliki pilihan untuk metode akuntansi, seperti metode penyusutan dan metode biaya. Kedua, tujuan manajemen laba untuk menyesatkan stakeholders mengenai kinerja ekonomi perusahaan. Hal ini muncul ketika manajemen memiliki akses terhadap informasi yang tidak dapat diakses oleh pihak luar.

Ada berbagai motivasi yang mendorong dilakukannya manajemen laba. Teori akuntansi positif (Positif Accounting Theory) mengusulkan tiga hipotesis motivasi manajemen laba, yaitu: (1) hipotesis program bonus (the bonus plan hypotesis), (2) hipotesis perjanjian hutang (the debt covenant hypotesis), dan (3) hipotesis biaya politik (the political cost hypotesis) (Watts dan Zimmerman, 1986).

Motivasi kontrak muncul karena perjanjian antara manajer dan pemilik perusahaan berbasis pada kompensasi manajerial dan perjanjian hutang (debt covenant). Semakin tinggi rasio hutang/ekuitas suatu perusahaan, yang ekuivalen dengan semakin dekatnya (yaitu semakin ketat) perusahaan terhadap kendala-kendala dalam perjanjian hutang dan semakin besar probabilitas pelanggaran perjanjian, semakin mungkin manajer untuk menggunakan metode-metode akuntansi yang meningkatkan income (Belkaoui, 2000).

Motivasi bonus merupakan dorongan manajer perusahaan dalam melaporkan laba yang diperolehnya untuk memperoleh bonus yang dihitung atas dasar laba tersebut. Manajer perusahaan dengan rencana bonus lebih mungkin menggunakan metode-metode akuntansi yang meningkatkan income yang dilaporkan pada periode berjalan. Alasanya adalah tindakan seperti itu mungkin akan meningkatkan persentase nilai bonus jika tidak ada penyesuaian untuk metode yang dipilih (Belkaoui, 2000). Penelitian Healy (1985) menggunakan pendekatan program bonus manajemen, yaitu bahwa manajer akan memperoleh bonus secara positif ketika laba berada di antara batas bawah (bogey) dan batas atas (cap). Ketika laba berada di bawah bogey manajer tidak mendapatkan bonus, dan ketika laba berada diatas cap manajer hanya mendapatkan bonus tetap.

Motivasi regulasi politik merupakan motivasi manajemen dalam mensiasati berbagai regulasi pemerintah. Perusahaan yang terbukti menjalankan praktik pelanggaran terhadap regulasi anti trust dan anti monopoli, manajernya melakukan manipulasi laba dengan menurunkan laba yang dilaporkan (Cahan, 1992; Jogiyanto dan Ainun, 1998). Perusahaan juga melakukan manajemen laba untuk menurunkan laba dengan tujuan untuk mempengaruhi keputusan pengadilan terhadap perusahaan yang mengalami damage award (Hall dan Stammerjohan, 1997). Selain itu Income taxation juga merupakan motivasi dalam manajemen laba (Lilis, 2001). Pemilihan metode akuntansi dalam pelaporan laba akan memberikan hasil yang berbeda terhadap laba yang dipakai sebagai dasar perhitungan pajak.

Sumber: 
shvoong.com

Wednesday, June 27, 2012

Masalah Penelitian


1. Pentingnya Masalah
Penemuan masalah merupakan tahap penelitian yang dinilai lebih esensial dibandingkan dengan tahap pemecahan masalah. Masalah penelitian yang dirumuskan terlalu umum dan ambiguitas akan menyulitkan peneliti untuk menemukan konsep-konsep teoretis yang telah ditelaah dan memilih metode pengujian data.

2. Tipe Masalah Penelitian
  1. Masalah-masalah yang ada saat ini di suatu lingkungan organisasional yang memerlukan solusi.
  2. Area-area tertentu dalam suatu organisasi yang memerlukan pembenahan atau perbaikan.
  3. Persoalan-persoalan teoretis yang memerlukan penelitian untuk menjelaskan/memprediksi.
  4. Pertanyaan penelitian yang memerlukan jawaban secara empiris.

3. Kriteria Masalah
  1. Merupakan bidang masalah dan topik yang menarik.
  2. Mempunyai signifikansi secara teoretis/praktis.
  3. Dapat diuji melalui pengumpulan dan analisis data.
  4. Sesuai dengan waktu dan biaya yang tersedia.

4. Sumber Penemuan Masalah
Sumber utama yang dapat digunakan untuk menemukan masalah penelitian berasal dari literatur dan pengalaman. Sumber yang berasal dari literatur meliputi literatur yang dipublikasikan: buku teks, jurnal, text-database dan literatur yang tidak dipublikasikan: skripsi, tesis, disertasi, paper atau makalah-makalah seminar.

5. Metode Penemuan Masalah
Ide untuk menemuan masalah penelitian dapat diperoleh melalui dua pendekan yaitu pendekatan formal dan pendekatan informal. Metode-metode pada pendekatan formal meliputi:
  1. Metode Analog
  2. Metode Renovasi
  3. Metode Dialektis
  4. Metode Morfologi
  5. Metode Dekomposisi
  6. Metode Agregasi

Sedangkan metode-metode pada pendekatan informal meliputi:
  1. Metode Perkiraan
  2. Metode Fenomenologi
  3. Metode Konsensus
  4. Metode Pengalaman

6. Perumusan Masalah
Perumusan masalah harus jelas dan tidak ambiguitas. Perumusan masalah dapat dinyatakan dalam bentuk pertanyaan ataupun berupa pernyataan tujuan penelitian.

7. Kesalahan Umum dalam Penemuan Masalah
  1. Peneliti mengumpulkan data tanpa rencana atau tujuan penelitian yang jelas.
  2. Peneliti memperoleh sejumlah data dan berusaha untuk merumuskan masalah penelitian sesuai dengan data yang tersedia.
  3. Peneliti merumuskan masalah penelitian dalam bentuk terlalu umum dan ambiguitas sehingga menyukitkan interpretasi hasil dan pembuatan kesimpulan penelitian.
  4. Peneliti merumuskan masalah tanpa terlebih dahulu menelaah hasil-hasil penelitian sebelumnya dengan topik sejenis, sehingga masalah penelitian tidak didukung oleh kerangka teoretis yang baik.
  5. Peneliti memilih masalah penelitian yang hasilnya memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori atau pemecahan masalah praktis.
Sumber: shvoong.com

Friday, June 15, 2012

Islamic Enterprise Theory

Islamic Enterprise Theory atau dikenal juga dengan Shariah Enterprise Theory merupakan enterprise theory yang telah diinternalisasi dengan nilai-nilai Islam guna menghasilkan teori yang transcendental dan lebih humanis. Enterprise  theory, seperti telah dibahas oleh Meutia (2010), merupakan teori yang mengakui adanya pertanggungjawaban tidak hanya kepada pemilik perusahaan saja melainkan kepada kelompok stakeholders yang lebih luas. Enterprise theory, menurut Triyuwono (2003), mampu mewadahi kemajemukan masyarakat (stakeholders), hal yang tidak mampu dilakukan oleh proprietary theory dan entity theory. Hal ini karena konsep enterprise theory menunjukkan bahwa kekuasaan ekonomi tidak lagi berada di satu tangan (shareholders), melainkan berada pada banyak tangan, yaitu stakeholders (Triyuwono, 2003). Oleh karena itu, enterprise theory ini lebih tepat untuk bagi suatu sistem ekonomi yang mendasarkan diri  pada nilai-nilai syariah. Hal ini sebagaimana dinyatakan Triyuwono (2003, h. 83) bahwa “diversifikasi kekuasaan ekonomi ini dalam konsep syari’ah sangat direkomendasikan, mengingat syari’ah melarang beredarnya kekayaan hanya di kalangan tertentu saja.”. Namun demikian, menurut Slamet (2001), enterprise theory masih perlu diinternalisasi dengan nilai-nilai Islam agar dapat digunakan sebagai teori dasar bagi suatu ekonomi dan akuntansi Islam.

Shariah Enterprise Theory dapat dikatakan merupakan suatu social integration yang berawal dari adanya kepentingan emansipatoris untuk membebaskan knowledge yang selalu terperangkap dalam dunia materiil menjadi suatu knowledge yang juga mempertimbangkan aspek non materiil. Aspek non materiil yang dimaksud adalah aspek spiritual atau nilai-nilai Illahi.

Knowledge, dalam hal ini shariah enterprise theory, merupakan suatu hasil refleksi diri yang berusaha memahami bahwa selain tindakan rasional bertujuan, yang merupakan tindakan dasar dalam hubungan manusia dengan alam, serta tindakan komunikasi dalam hubungan dengan sesama sebagai objek; terdapat tindakan dasar lain terkait dengan hubungan manusia dengan Penciptanya. Hubungan ini disebut hubungan “abduh (obey, obedient, penghambaan). Maka yang berlaku dalam Shariah Enterprise Theory adalah Allah sebagai sumber utama, karena Dia adalah pemilik yang tunggal dan mutlak. Sumber daya yang dimiliki oleh para stakeholders pada dasarnya adalah amanah dari Allah yang di dalamnya melekat sebuah tanggung jawab untuk menggunakannya dengan cara dan tujuan yang telah ditetapkan oleh Sang Pemberi Amanah. 

Sehingga tujuan dari penggunaan sumber daya ini tidak lain adalah untuk mendapatkan mardhatillah 
(ridho/ijin  Allah). Tujuan ini dapat dicapai jika si hamba menggunakan sumber daya dengan cara yang dapat membuatnya menjadi rahmatan lil alamin (membawa rahmat bagi seluruh isi alam).
Nilai-nilai spiritual seperti yang diuraikan di atas, yaitu abduh, mardhatillah, dan rahmatan lil alamin, merupakan nilai-nilai yang telah melekat dalam Shariah Enterprise Theory.

Sumber: shvoong.com

Thursday, June 14, 2012

Sistem Pengolahan Data

Sistem pengolahan data atau sistem accounting yaitu memelihara atau mengurus record operasi perusahaan secara lengkap dan menghasilkan dokumen yang menjelaskan operasi tersebut. Dokumen tersebut digunakan oleh manajer dan non-manajer dalam perusahaan dan oleh semua elemen lingkungan kecuali pesaing. Sistem dari sebagian besar organisasi atau perusahaan modern terdiri atas kombinasi antara metode komputer, manual, dan mesin keydriven. Tidak seperti halnya area aplikasi komputer utama, perusahaan tidak mempunyai pilihan mengenai pengolahan data ini. Aplikasi perusahaan ini harus dijalankan agar dapat memberikan dasar untuk mengontrol operasi perusahaan oleh manajemen dan elemen yang ada dalam lingkungan.

Pengolahan data terdiri atas empat tugas dasar, yaitu pengumpulan data, pengubahan data, penyimpanan data, dan pembuatan dokumen. Pengubahan data meliputi pengklasifikasian, penyortiran, pengkalkulasian, dan perekapitulasian.

Ada beberapa sifat pengolahan data yang membedakannya dengan area aplikasi yang lain. Pengolahan data menjalankan tugas yang penting, mengikuti prosedur standar secara relatif, menghimpun data yang detail atau lengkap, mempunyai fokus historis yang utama, dan memberikan informasi pemecahan masalah minimal.

Perusahaan distribusi menggunakan perpaduan dari sembilan subsistem pengolahan data. Empat subsistem mengolah pesanan pelanggan, yaitu entri pesanan, pemesanan stok tambahan, yaitu pembelian, penerimaan, dan account payable. Dua subsistem mengurus atau memelihara buku besar umum dan menghasilkan laporan manajemen standar. Masing-masing merupakan sistem yang dapat didokumentasikan dengan DFD untuk menunjukkan arus data secara logika langkah demi langkah. DFD dapat membentuk dasar desain sistem dengan menggunakan segala jenis teknologi.

Pengolahan data memberikan sumbangan terhadap pemecahan masalah dengan dua cara. Ia menghasilkan laporan standar yang merekapitulasi kondisi keuangan perusahaan, dan ia memberikan database dari data internal yang digunakan oleh subsistem CBIS yang lain.

Sumber: shvoong.com

Wednesday, June 13, 2012

Sistem Informasi Akuntansi Manajemen


Karakteristik Akuntansi Manajemen dapat ditinjau dari dua sudut pandang, yaitu:
  1. Akuntansi Manajemen sebagai Tipe Akuntansi
  2. Akuntansi Manajemen sebagai Tipe Informasi


Perbedaan Akuntansi Keuangan dengan Akuntansi Manajemen
  • Pemakai Utama. Pemakai utama Akuntansi Keuangan adalah investor, pemegang saham, kreditur (pihak luar perusahaan, sedangkan pemakai utama Akuntansi Manajemen adalah manajer (pihak perusahaan).
  • Dasar Pencatatan. Dasar pencatatan dari Akuntansi Keuangan adalah Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku, sedangkan Akuntansi Manajemen tidak selalu mengacu kepada standar/peraturan akuntansi keuangan yang berlaku di negara tersebut.
  • Fokus Informasi yang diolah. Akuntansi Keuangan mengolah informasi masa lalu atau yang sudah terjadi, sedangkan Akuntansi Manajemen mengolah informasi yang digunakan untuk masa mendatang.
  • Lingkup / scope informasi yang diolah. Akuntansi Keungan mengolah seluruh informasi keuangan perusahaan, sedangkan Akuntansi Manajemen hanya sebagian yang dirasa penting bagi perusahaan.
  • Sifat laporan yang dihasilkan. Akuntansi Keuangan mempunyai laporan keuangan yang pasti, sedangkan Akuntansi Keuangan menghasilkan laporan yang digunakan sebagai prediksi untuk masa yang akan datang.
  • Dasar Ilmu. Akuntansi Keuangan menggunakan Ilmu Ekonomi, sedangkan Akuntansi Manajemen menggunakan tidak hanya Ilmu Ekonomi tetapi juga menggunakan ilmu psikologi.
  • Keterlibatan manusia/orang. Akuntansi Keuangan disusun oleh bagian keuangan perusahaan saja sehingga membutuhkan sedikit orang, sedangkan Akuntansi Manajemen mencakup semua orang di dalam perusahaan mulai dari manajer, bagian produksi, bagian pemasaran, dll.


Sistem Informasi Akuntansi Manajemen dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
  1. Full Accounting Information (FAI) = Tipe informasi akuntansi manajemen yang mengolah informasi masa lalu dan masa yang akan datang.
  2. Differential Accounting Information (DAI) = Tipe informasi akuntansi manajemen yang mengolah informasi ttg taksiran biaya, pendapatan, dan aset dari berbagai alternatif yang akan dipilih.
  3. Responsibility Accounting Information (RAI) = Tipe informasi akuntansi manajemen yang mengolah informasi ttg biaya, pendapatan dan aktiva yang dikaitkan dengan pusat-pusat pertanggungjawaban.


Perspektif Historis Akuntansi Manajemen
  1. Pencatat Skor (Score Keeping).
  2. Penarik Perhatian Manajemen (Attention directing).
  3. Membantu dalam pemecahan masalah (problem solving).
Sumber: shvoong.com

Penggunaan Informasi Akuntansi Diferensial dalam Perencanaan Laba Jangka Pendek

Kegunaan Informasi Akuntansi Diferensial salah satunya adalah sebagai alat perencanaan laba jangka pendek. Perencanaan laba jangka pendek dapat dilakukan dengan melakukan analisis biaya-volume-laba.

Parameter-parameter perencanaan laba jangka pendek yaitu:
  1. BEP (Break Even Point)
  2. Margin of Safety
  3. Shutdown Point
  4. Degree of Operating Leverage

Break Even Point (BEP)
  • merupakan kondisi perusahaan dimana perusahaan tidak mengalami keuntungan dan tidak pula menderita kerugian.
  • artinya perusahaan memiliki pendapatan dan biaya yang sama besarnya.
  • dengan kata lain, perusahaan memiliki laba sebesar 0 dan mengalami kerugian sebesar 0.
  • BEP dapat dihitung dengan cara membagi biaya tetap dengan selisih antara harga dan biaya variabel (BEP dalam unit) atau dengan contribution margin ratio/CMR (BEP dalam jumlah uang). 

Margin Of Safety
  • margin of safety merupakan batas aman perusahaan untuk tidak mengalami kerugian atau batas toleransi penurunan volume penjualan dari target penjualan perusahaan agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
  • margin of safety dapat diperoleh dengan menghitung selisih antara target penjualan perusahaan dengan Break Even Point (BEP). 


Shutdown Point
  • shutdown point merupakan kondisi dimana perusahaan harus menutup usahanya jika tidak ingin mengalami kerugian yang lebih besar.
  • shutdown poin dapat dihitung dengan cara membagi biaya tetap tunai perusahaan dengan selisih antara harga dan biaya variabel perusahaan atau biaya tetap tunai dengan contribution margin ratio (CMR).

Degree of Operating Leverage
  • degree of operating leverage digunakan untuk mengetahui dampak perubahan penjualan terhadap laba bersih perusahaan, yaitu berapa persentase penjualan berakibat terhadap persentase laba bersih.
  • degree of operating leverage dapat dihitung dengan cara membagi laba kontribusi dengan laba bersih.
  • jika degree of operating leverage sebesar 10, maka jika penjualan naik/turun 5% maka laba bersih akan mengalami penurunan sebesar 10 x 5 = 50%. 

Laba Kontribusi
  • merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan dari kegiatan perusahaan, misalnya penjualan.
  • laba kontribusi dapat diperoleh dengan cara menghitung selisih antara pendapatan perusahaan dikurangi dengan biaya produk.
Sumber: shvoong.com